Saturday, August 15, 2020

Jejak Tgk. Mukhlis Al-Yusufy Sosok Ulama Muda di Aceh Selatan

 


Tgk. H. Mukhlis Al-Yusufy atau yang akrap disapa dengan panggilan Abungoh merupakan Putra Kedua alm. Abu Daud Teupin Gajah (Tgk. H. Mhd. Daud Al-Yusufy) Pendiri Dayah Madinatuddiniyah Babussa’adah Teupin Gajah Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan. 


Beliau Lahir di Krueng Kalee 21 September 1971. Mengawali pendidikan agama pada orang tuanya Abu sampai usia tamat SD.

 

Setelah menamatkan bangku SD tahun 1985 beliau mulai bergabung mengaji di MTI (Rumoh Sikula Agama) yang kala itu sudah dipimpin oleh alm. Abu Daud Teupin Gajah, kemudian MTI tersebut berubah Menjadi Asrama Santri Wati Dayah Babussa’adah.

 

Abungoh tergolong cerdas, diumur 14 tahun tepatnya tahun 1985 - 1987 beliau sudah mulai menjadi dewan guru dan mengajar orang seumuran dengannya di MTI Babussaadah, banyak kawan seangkatannya mengakuai kepintaran Abungoh, baik disekolah ataupun dipesantren beliau selalu juara kelas.



 Baca Juga : Jejak Abuya Jailani Kota Fajar Ulama Kluet Raya yang Kharismatik



Pada tahun 1987 Alm. Abu memutuskan mengantarkan Abungoh melanjutkan pendidikan ke Dayah Darussalam Labuhanhaji Aceh Selatan, kala itu dayah Darussalam dibawah Pimpinan Abuya Nasir Waly, Lc. Abungoh lumayan lama di Dayah Darussalam, disini beliau juga sudah menjadi dewan Guru, ia ikut mengajar dan mengaji langsung pada pimpinan dayah Darussalam Abuya Nasir Wali. Sambil mengaji Abungoh menjual kitab untuk para santri, jiwa dangannya terwarisi dari Alm. Abu (Ayahnya), Alm. Abu Daud saat mondok juga menjual kitab-kitab pada para santri.



Baca Juga : Jejak Abuya Nasir Waly, Sang Ulama Santun yang Menolak Berbagai Jabatan Pemerintahan


Baca Juga : Abu Tu Min Blang Bladeh "Tua Umurnya dan Tua Pula Ilmunya"



Setelah di Dayah Darussalam Abungoh melanjutkan pendidikan ke Dayah Babussalam Blang Bladeh Bireuen, pimpinan Abu Tumin (Tgk. H. Muhammad Amin), di dayah Babussalam Abungoh menjadi santri senior, ia menjadi tangan kanan Abu TU kala itu, Abungoh juga menjabat sebagai ketua Umum di dayah Blang Bladeh sampai beberapa priode.

 

Dayah Babussalam merupakan salah satu dayah terbesar di Aceh, ribuan santri mondok disana, banyaknya jumlah santri dijadikan kesempatan oleh Abungoh untuk menjual Kitab, ia membuka sebuah kios dan menjual berbagai buku agama dan kitab-kitab untuk para santri, usahanya lumayan sukses dan berkembang.



 Baca Juga : Deretan Ulama Sepuh di Aceh Selatan yang Masih Tersisa



Setelah menjadi seorang ulama muda, Abungoh masih tetap di Dayah Babussalam Blang Bladeh, memiliki ilmu yang matang, akhirnya beliau mendapat izin dari Abu Tu untuk mengembangkan ilmunya ketengah masyarakat, namun ia belum merasa puas menuntut ilmu, dan memutuskan tidak kembali ke kampung, tapi melanjutkan lagi pendidikan Kenegeri Yaman.

 

Melanjutkan Pendidikan Ke-Yaman (Negerinya Imam Syafi’i)

 

Mendapat izin dari Guru dan kedua orang tua menjadi modal besar untuk Abungoh menuju Negara Yaman, beliau menjual semua kitab dagangannya untuk modal ke Yaman, niat dan tekat bulatnya ini tidak lebih semata karena ilmu pengetahuan, dan mencari keberkahan dimana Negeri Yaman adalah tempatnya para ulama, dan tempatnya Imam Mazhab kita (Imam Syafi’i). Motivasi ini mengatarkan Abungoh kenegeri Seribu Wali ini.

 

Di Yaman Abungoh memilih Pesantren di Hudaidah, sebuah kota yang berkembang di Yaman, disana beliau mendalami ilmu Al-Quran, Hadits dan Tasauf (ilmu thariqat). Dari Yaman Abungoh menunaikan Haji pertama kali, beliau dan kawan-kawan dari berbagai Negara berlayar menyeberangi laut merah menuju Mekah Mukarramah untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima.



 Baca Juga : Abu Daud Teupin Gajah, Sosok Ulama Tak Kenal Lelah Dalam Membimbing Umat



Sekembalinya dari Timur Tengah beliau berencana kembali lagi ke dayah Babussalam Blang Bladeh, melihat semangat menuntut ilmu yang tidak padam, timbul kecemasan dari Nyak (Ibunya), melihat Abungoh masih belum berencana untuk berkeluarga. Akhirnya Alm. Abu dan Nyak memutuskan meminang seorang Putri Syek Abdurrauf cucu Abuya Muda Wali Al-Khalidi Darussalam cucu Ulama Karismatik Aceh Pendiri Dayah Darussalam tempat ia mengaji sebelumnya.



 Baca Juga : Abon Kota Fajar, Sosok Ulama Kharismatik dan Bertuah Dari Bakongan Aceh Selatan



Setelah berkeluarga Abungoh mengajar di Dayah Darussalam, kemudian Alm. Abu meminta Abungoh kembali ke Dayah Babussa’adah untuk memimpin Dayah Putri, dibawah kepemimpinan Abungoh, Dayah Putri berkembang pesat, dan memiliki lokasi kusus yang luasnya hampir sama dengan dayah Putra Babussa’adah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Dayah Madinatuddiniyah Nurul Fata, dan beliau menjadi pimpinan Dayah tersebut mulai pada tahun 2010 sampai dengan sekarang.

 

Disamping mejadi pimpinan Dayah Nurul Fata, Abungoh melanjutkan mengasuh Majlis Ta’lim peninggalan Alm. Abu, ada 23 Majlis Ta’lim yang tesebar mulai dari Aceh Selatan sampai ke Aceh Tenggara, kini majelis Ta’lim tersebut mulai bertambah hapir mencapai 30 tititik dibawah kepemimpinannya terus berkembang, Abungoh Juga memimpin Sulok dan Tawajuh Thariqat Nasyabandiyah di Dayah Babussa'dah  Gampong Teupin Gajah.



Baca Juga : Tgk. Syafruddin Al - Yusufy Pimpinan Dayah Perbatasan Minhajussalam Kota Subulussalam Sekaligus Inisiator Pendiri IKABAS



Atas keilmuan serta dedikasinya terhadap perkembangan Dayah Babussa’adah, oleh para Alumni mempercayainya sebagai salah satu dewan Pembina IKABAS (Ikatan Alumni Babussa’adah) sebagai Wakil Ketua pembina dibawah Al-Fadhil. Abucek (Tgk. Safruddin Al-Yusufy), yang tidak lain merupakan Abang Kandungnya. *(AY)

 

*Penulis : Ayah Ilham (Tgk. Ilham Mirsal S.Pd.I, MA

No comments:
Write komentar

Tinggalkan Komentar!