Wednesday, June 17, 2020

Abu Tu Min Blang Bladeh "Tua Umurnya dan Tua Pula Ilmunya"



ABU TU MIN BLANG BLADEH adalah sosok Ulama Kharismatik Aceh. Beliau lahir pada tahun 1932 di Gampong Kuala Jeumpa, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, Aceh. Abu Tu Min juga dilahirkan dari keluarga ulama, dan pemuka masyarakat. Teungku Tu Mahmud Syah merupakan ayah beliau dan adalah sosok ulama, tokoh masyarakat dan pendiri dayah.

Sejak masa kecil Abu Tu Min telah dipersiapkan sebagai seorang ulama. Dalam mengawalai pengembaraan ilmunya, Abu Tu Min juga pernah menempuh pendidikan umum masa Belanda selama tiga tahun. Dalam usia 12 tahun juga pernah belajar di Sekolah Rendah Islam yang juga disebut “SRI”, sebuah sekolah yang memiliki bahan ajaran yang memadai dalam bidang agama. Sembari sekolah d SRI, Abu Tu Min belajar juga pada ayahandanya bidang ilmu keislaman, yaitu dasar-dasar kitab kuning dan ilmu alat seperti Nahwu dan Sharaf.



Selama rentang waktu tiga tahun itu pula beliau belajar sungguh-sungguh kepada ayahnya Tgk.Tu Mahmud Syah, dan telah menjadi bekal dalam melanjutkan ke jenjang selanjutnya.
Dalam usia 15 tahun, Abu Tu Min memulai karirnya belajar dari satu dayah ke dayah lainnya hingga berakhir di dayah Darussalam Labuhanhaji, Aceh Selatan dengan didikan gurunya Abuya Syech Muda Waly al-Khalidy.

Abu Tu Min juga pernah menempuh studinya beberapa bulan di Dayah Darul Atiq Jeunib yang dipimpin oleh Abu Muhammad Shaleh yang tak tak lain merupakan ayahanda dari Tgk. Abdul Aiz yang akrap disapa Abon Aziz Samalanga. Setelah itu beliau melanjutkan pengajiannya ke Dayah Samalanga dalam beberapa bulan juga, kemudian Abu Tu Min belajar di Dayah Meuluem Samalanga selam satu tahun, dan terakhir di Dayah Pulo Reudeup yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Pulo Ruedeup selama tiga tahun sebelum melanjutkan ke Dayah Darussalam labuhanhaji Aceh Selatan.
Oleh demikian halnya dengan segala ilmu yang telah memai dari guru-gurunya tersebut yeng telah mengantarkan Abu Tu Min muda di usianya 20 tahun berangkat ke Dayah Darussalam Labuhanhaji pada tahun 1953.


Padap tahun 1953 tersebut, selain Abu Tu Min ternyata ada beberapa ulama lainnya kala itu melanjutkan pendidikan disana pada yang mulia Abuya Syech Muda Waly al-Khalidy. Kala itu secara umum para teungku-teungku yang belajar kepada Abuya Muda Waly, telah memiliki ilmu yang yang memadai sebelum belajar ke abuya, sehingga bisa duduk di kelas “Doktor” Bustanul Muhaqiqin. Diantara ulama-ulama yang datang pada tahun 1952 dan 1953 adalah Abu Abdullah hanafi Tanoh Mirah dan Abon Aziz Samalanga.

Pun demikian, selain menjadi murid Abuya Syech Mda Waly di Darussalam, Abu Tu Min juga telah dipercaya sebagai guru, untuk mengajar para santri lainya di Dayah tersebut ditingkat Tsanawiyah, tepatnya beliau mengajar di kelas 6 B, sedangkan kelas 6 A diajarkan langsung oleh Abuya Muhibuddin Waly, sedangkan Abuya Muda Waly mengajarkan kelas dewan guru. Selain menjadi murid Abuya Syekh Haji Muda Waly di Darussalam, Abu Tumin juga telah dipercaya untuk mengajarkan para santri lain yang berada pada tingkatan tsanawiyah, karena beliau disebutkan mengajar santri di kelas 6 B, adapun di kelas 6 A.

Ketika di Darussalam Labuhan Haji, Abu Tu Min sekelas dengan Abu Hanafi Matang Keuh, Teungku Abu Bakar Sabil Meulaboh dan Abu Daud Zamzami Ateuk Anggok. Adapun Abu Abdullah Tanoh Mirah dan Abon Samalanga lebih senior satu tingkat diatasnya. Abu Tumin belajar dan mengajar di Labuhan Haji selama 6 tahun, beliau juga murid khusus di kelas Bustanul Muhaqqiqin belajar langsung kepada Abuya Haji Muda Waly.


Setelah menyelesaikan pendidikannya di Dayah Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin kemudian memohon izin kepada gurunya untuk pulang kampung pada tahun 1959 untuk mengabdikan ilmunya. Sedangkan temannya seperti Abon Samalanga pulang kampung setahun sebelumnya pada tahun 1958 dan Abu Tanoh Mirah pulang di Tahun 1957. Karena umumnya murid-murid Abuya yang datang di atas tahun 1952 dan 1953 pulang di akhir tahun1959. Sedangkan generasi sebelum Abu Tumin yang datang ke Darussalam pada tahun 1945 dan 1947, mereka umumnya pulang di tahun 1956 seperti Abu Aidarus Padang dan Abu Imam Syamsuddin Sangkalan.


Setibanya di Kampung halaman, setelah belajar di berbagai dayah terutama Dayah Darussalam Labuhan Haji telah mengantarkan Abu Tumin menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya.
Abu Tu Min kemudian memimpin dayah yang telah dibangun oleh kakek beliau yaitu Teungku Tu Hanafiyah yang kemudian dilanjutkan oleh Teungku Tu Mahmud Syah ayah Abu Tumin, selanjutnya estafet keilmuan dan kepemimpinan dayah dilanjutkan oleh Abu Tumin. Pada era Abu Tumin mulailah pesat pembangunan Dayah tersebut. Dimana para santri datang dari berbagai tempat untuk belajar kepada Abu Tumin dan belajar dari sang ulama.

Abu Tu Min juga merupakan seorang ulama yang murabbi, sehingga banyak muridnya yang kemudian menjadi ulama terpandang sebut saja di antaranya adalah Abu Mustafa Paloh Gadeng yang belajar kepada Abu Tumin selama 19 tahun sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang ulama kharismatik Aceh yang diperhitungkan. Ulama lainnya yang juga murid Abu Tumin adalah Abu Abdul Manan Blang Jruen yang dikenal sebagai ulama yang ahli dan lihai dalam bidang tauhid, serta moderator yang hebat dalam Muzakarah Para Ulama Aceh, sehingga diskusi nampak hidup dan ceria. Selanjutnya Tgk. H. Muhmmada Al-Yusufi dari Aceh Selatan yang akrap disapa dengan Abu Daud di Teupin Gajah Dan banyak para ulama lainnya yang juga murid dari Abu Tumin, selain murid-muridnya di Dayah Darussalam dulu,
Bahkan Abuya Nasir Waly disebutkan juga pernah belajar di dayah Abu Tumin sebelum beliau berangkat ke Madinah. Dan disebuah acara muzakarah, Abuya Mawardi Waly juga menyebutkan dirinya sebagai murid Abu Tumin. Intinya beliau juga ulama yang Syekhul Masyayikh.

Selain itu, Abu Tumin juga dianggap sebagai ulama panutan oleh para ulama lainnya, dimana fatwa-fatwa hukumnya menjadi bahan kajian dan pegangan para ulama lainnya.

Biasanya pada setiap muzakarah yang diadakan di berbagai tempat, Abu Tumin yang kemudian mengambil keputusan final setelah sebelumnya para ulama lain memberikan pandangan dan sanggahan atas setiap persoalan yang sedang dibahas forum. Kehadiran Abu Tumin menambah acara muzakarah semakin bermakna, karena pandangan hukum beliau biasanya dari ingatan yang lama dan kajian yang mendalam. Sehingga tidak mengherankan bila ada yang menyebutkan bahwa "Abu Tumin tua umurnya dan tua pula ilmunya".

Sekarang Abu Tumin tidak muda lagi usianya telah lebih dari 88 tahun, namun semangat beliau dalam mengayomi umat begitu kokoh dan tangguh. Walaupun tertatih, namun beliau tetap hadir untuk mencerahkan ummat. Tubuhnya tidak sekuat dulu, dan mulai menderita banyak penyakit. Abu Tumin telah mempersembahkan usianya untuk agama ini, dan telah pula mencurahkan segenap ilmu dan pengabdiannya, mengayomi masyarakat Aceh secara tulus ikhlas. Semoga Allah SWT senantiasa memberi beliau kekuatan dan petunjuk untuk menuntun ummat Rasulullah ke jalan selamat.

Sumber: dikutip dari Facebook Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary

No comments:
Write komentar

Tinggalkan Komentar!