Friday, August 7, 2020

Pahlawan Aceh yang Dilupakan Sejarah, Tuanku Hasyim Banta Muda yang Pernah Menolak Dinobatkan Sebagai Sultan Aceh

Mengutip Kata Soekarno : “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.

Begitulah nasib pahlawan yang terlupakan Tuanku Hasyim Banta Muda, jasanya begitu besar untuk bangsa ini, namun beliau dilupakan begitu saja.

Lantas, Siapakah Tuanku Hasyim Banta?


Tuanku Hasyim Banta Muda lahir di Gampong Lambada dalam Sagi Mukim 26 Aceh Besar, kisaran tahun 1834 Masehi. Ayahnya bemama Laksamana Tuanku Abdul Kadir yang semasa hidupmya memangku jabatan perwalian di Aceh Timur. Tuanku Hasyim Banta Muda bersaudara tiga orang, diantaranya ialah Tuanku Raja Itam dan Tuanku Mahmud Bangta Keucik. Ia adalah putera yang tertua dari tiga bersaudara ini.


Adapun asal-usul serta silsilah keturunannya, Tuanku Hasyim Banta Muda adalah putera laksamana Tuanku Abdul Kadir, ibnu Raja Muda Tuanku Cut Zainal Abidin, ibnu Sultan Alaidin Mahmudsyah, ibnu Sultan Abidin Johan Syah, ibnu Sultan Alaidin Ahmad Syah, ibnu Nuruddin Abdurahim Maharaja Lela, ibnu Fakih Zainal Abidin Syah, Ibnu Malik Daim Mansyursyah, ibnu ' Abdullah Al Malikul Amin, ibnu Malik Syah Daim Syah, ibnu Abdul Jalil Daim Husin Syah, ibnu Malik Mahmud Hakim Syah, ibnu Musa Daim Syah, ibnu Hasyim Nuruddin Syah, ibnu Mansyur  Syah, ibnu Sulaiman Syah Daim Ali Iskandar, ibnu Malik Ibrahim Syah Daim, yaitu saudara sewali dari tokoh Alaidin yang bernama Machdum Abi Abdillah As Syekh Abdurauf Al Mulaqqab Tuan di Kandang Syekh Bandar Darussalam.


Tepanya pada 495 Hijrah rombongan yang terdiri dari 500 orang berhasil mengislamkan penduduk Aceh Raya. Kemudian sebahagian rombongan ini di bawah pimpinan Mansyur meneruskan perjalanannya dalam dakwah Islam ke Makasar (Ujung Pandang).


Sedang sebahagian termasuk keturunan Machdum Abdi Abdillah Johan Syah - Ali Mughayat Syah - Iskandar Muda terus bermukim dan menetap di Aceh untuk menyempurnakan pertumbuhan dan melaksanakan pembangunan Aceh dalam segala bidang.


Selang bertahun-tahun kemudian, Mansyur keturunan Ibrahim Syah Daim kembali dari Makasar ke Aceh, dan setelah beberapa kali pergantian Sultan dari garis keturunan satu dan lainnya, terus cicit Mansyur diangkat menjadi Sultan Aceh yang bernama Alaidin Ahmad Syah.

Kemudian yang terakhir Sultan Alaidin Mahmud Daud Syah. Pada masa inilah Tuanku Hasyim mulai memegang peranan dan turun ke arena pertempuran menghadapi serangan Belanda.


Karena sultan aceh pada saat itu dalam masa kemunduran lantaran pihak Kafir Belanda sangat intensif menyerang Aceh. Dengan demikian petinggi kerajaan kala itu mengadakan rapat tertutup untuk mencari cara terbaik terkait permasalahan yang di hadapi oleh istana.

 

Singkat cerita setelah musyawarah selesai, dari pihak kerajaan menyarankan Tuanku Hasyim Banta Muda untuk di angkat menjadi raja, namun dengan halusnya beliau menolak.


Hasyim Muda lebih condong memilih Mahmudsyah (Sultan Mahmud Syah) yang masih berusia belia untuk dijadikan sebagai Sultan Aceh. Dengan kata Lain Hasyim Muda lebih bersedia menjadi pemangku Sultan Aceh (Wali Nanggroe) hingga Mahmudsyah cukup usia untuk dikukuhkan sebagai Sultan Aceh pada masa berikutnya.


Musibah datang terhadap Sultan Mahmudsyah beliau terjangkit wabah pandemi kolera hingga akhirnya mangkat pada 26 Januari 1874, yakni di Pagaraye, Aceh Besar.


Tuanku Hasyim Muda Kembali diminta untuk dijadikan sebagai Raja. Lagi-lagi ia menolak dan sebagai alternatif, ia menunjuk Muhammad Daud Syah untuk menjadi Sultan Aceh yang kala itu masih belum baliq.


Setelah terjadi peperangan yang sangat dahsyat di Kuta Radja (sekarang disebut Banda Aceh), dan efek dari perang Belanda di Aceh tersebut maka Dalam (sebutan istana Kesultanan Aceh) terpaksa dipindahkan ke Keumala sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Aceh untuk sementara. Maka Tuanku Hasyim Banta Muda beserta Sultan Muhammad Daud Syah pindah ke Keumala.

 

Pada tahun 1879 Tuanku Hasyim pun semakin tua namun jiwa patriot dan semangat jihadnya tetap membara untuk menentang penjajahan Belanda, ia tinggal di keumala di Dalam (sebutan istana Kesultanan Aceh) bersama Sultan Muhammad Daud Syah yang masih berumur kurang lebih 10 tahun.


Berkat daya dan upaya Kuta Keumala Dalam (sebutan istana Kesultanan Aceh) terus tumbuh dan menjadi ibu kota kerajaan aceh yang ke dua serta menjadi pusat kebudayaan dan pusat perdagangan lokal, setelah Sultan Muhammad Daud Syah dewasa, maka pada tahun 1894 tuanku Hasyim beserta keluarganya meninggalkan Keumala Dalam (sebutan istana Kesultanan Aceh) dan pulang ke Reubee,tepatnya dikediaman Raja Meunasah Runtoh.


Selanjutnya pada 1896 ia kembali ke Padang Tiji, setelah 20 tahun lamanya diamanahkan sebagai pimpinan tinggi militer, tepat hari Jumat tanggal 22 januari 1897 Tuanku Hasyim menghembuskan nafas terakhir dalam usia 63 tahun dan di makamkan di samping Masjid Padang Tiji lama dalam kemungkiman Paloh Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie.


Kala itu seorang tokoh Belanda Bruijnsma mengutarakan sosok dari Tuanku Hasyim Banta Muda:  “Tuanku Hasyim lahir sebagai seorang berbakat, ya kami tutup cerita kami tentang tuanku hasyim, panglima perang musuh kita, tokoh yang berani, penuh kebijaksanaan dalam mempertahankan masjid raya, dengan kesimpulan bahwa seandainya dia tidak pernah hidup, agaknya sudah bertahun-tahun lamanya kita memiliki Aceh dengan tentram”.


Dengan sebuah kesadaran akan pentingnya arti dan nilai bukti-bukti sejarah tersebut, yang diterjemahkan pula lewat perilaku-perilaku bersifat melestarikan, serta memperhitungkan keberadaannya, maka siapapun baik generasi hari ini maupun masa depan, baik kita sendiri maupun orang luar, akan dapat menyaksikan sejarah negeri ini terpampang dimana-mana, warisan sejarah adalah satu diantara penghubung dan pemandu kita ke masa lalu.

 

Sumber : https://beulangeungtanoh.blogspot.com/search/label/Sejarah?updated-max=2017-10-09T22%3A14%3A00-07%3A00&max-results=5#PageNo=7

No comments:
Write komentar

Tinggalkan Komentar!