Saturday, July 4, 2020

Ketika Aceh Menjadi Sorotan Dunia, Inilah Serangkai Peristiwa Di Serambi Mekkah



Ketika Aceh Jadi Sorotan Dunia

NANGGROE ACEH dulunya merupakan kerajaan Islam kelima yang super power di dunia pada eranya kejayaannya. Diawali dari Kesultanan Samudera Pasai, hingga Kesultanan Aceh Darussalam yang menyatukan seluruh negeri sebagian pulau Sumatera hingga ke Negeri Pahang Malaysia.

Jadi tak heran, Aceh? menjadi perhatian Dunia kala itu, bahkan banyak orang-orang belahan dunia datang ke Aceh kala itu.

Bukan hanya itu saja hingga zaman perang Belanda dan sekarang, Aceh masih menjadi objek perhatian dunia dengan fakta-fakta yang pernah terjadi di Aceh, apa sajakah?berikut ulasannya.

Radio Rimba Raya

Monumen Radio Riba Raya di Kabupaten Bener Meriah | footage: harianfikiransumut.com

Radio Rimba Raya yang terletak di Kabupaten Bener Meriah adalah salah satu Media komunilkasi pada tahun 1948 yang merupakan Radio Republik Indonesia darurat, Radio Rimba Raya berperan sangat besar terhadap kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia dan menjadi penyelamat dan nafas terakhir Indonesia, bahkan merupakan satu-satunya radio yang menyuarakan keberadaan Indonesia, setelah RRI Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda pada 19 Desember 1948.

Melalui radio inilah disiarkan pesan–pesan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan mengudaranya suara radio rimba raya, objek perhatian dunia kala itu tertuju ke Aceh satu-satunya wilayah Indonesia yang tak dapat dikuasai Belanda dan dunia mengakui bahwa Republik Indonesia masih ada yaitu di ACEH.

Konflik Aceh, Perseteruan RI-GAM Selama 30 Tahun

Prajurit GAM | istimewa

Setelah beberapa tahun Indonesia merdeka dan diakui dunia internasional, banyak pro dan kontra elit Aceh dengan pemerintah RI, misalnya pemberotakan Darul Islam yang dpimpin Daud Beureu’eh.

Selang beberapa tahun kemudian terjadi lagi Pemberontakan di Aceh yang dikobarkan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memperoleh kemerdekaan dari Indonesia antara tahun 1976 hingga tahun 2005.

Dikutip dari Wikipedia ada tiga Fase pemberontakan GAM yang terjadi di Aceh.
Pada tahap pertama timbulnya konflik karena Kecenderungan sistem sentralistik pemerintahan Soeharto, bersama dengan keluhan lain mendorong tokoh masyarakat Aceh Hasan di Tiro untuk membentuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tanggal 4 Desember 1976 dan mendeklarasikan kemerdekaan Aceh. Salah satunya adalah ancaman utama yang dianggap melatarbelakangi terhadap praktik agama Islam konservatif masyarakat Aceh, budaya pemerintah Indonesia yang dianggap "neo-kolonial", dan meningkatnya jumlah migran dari pulau Jawa ke provinsi Aceh.

Sedangkan Fase tahap kedua yaitu pada tahun 1985, HasanTiro mendapat dukungan Libya untuk perjuangan GAM, dengan mengambil keuntungan dari kebijakan Muammar Gaddafi yang mendukung pemberontakan tersebut. Sejumlah pejuang GAM yang dilatih di Libya terjadi selama dekade 1986-1989 atau 1990.

Pada tahun 1998, terjadi kekacauan di Jawa dan pemerintah pusat karena kejatuhan Soeharto memberikan keuntungan bagi Gerakan Aceh Merdeka dan mengakibatkan pemberontakan tahap kedua setelah 1990-an setelah para prajurit eks Libya pulang ke Aceh.

Kali ini dengan dukungan yang besar dari masyarakat Aceh. Pada tahun 1999 penarikan pasukan diumumkan, namun situasi keamanan yang memburuk di Aceh kemudian menyebabkan pengiriman ulang lebih banyak tentara selama masa jabatan Presiden Megawati Soekarnoputri (2001 -2004) pada pertengahan 2002.

Kala itu GAM mampu menguasai 70 persen pedesaan di seluruh Aceh.

Selama fase ini, ada dua periode penghentian konflik singkat: yaitu "Jeda Kemanusiaan" tahun 2000 dan "Cessation of Hostilities Agreement" (COHA) ("Kesepakatan Penghentian Permusuhan") yang hanya berlangsung antara Desember 2002 ketika ditandatangani dan berakhir pada Mei 2003 ketika pemerintah Indonesia menyatakan "darurat militer" di Aceh dan mengumumkan bahwa ingin menghancurkan GAM sekali dan untuk selamanya.

Sidang Umum Referendum Aceh Dihadiri Jutaan Massa


Jutaan massa berkumpul dihalaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh | istimewa

Sebuah peristiwa penting nan bersejarah terjadi pada 8 November 1999. Perjuangan referendum bergema di seluruh Aceh. Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) sebagai lembaga yang menerima mandat dari Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau (KOMPAS) bergerak cepat melakukan sosialisasi referendum kepada masyarakat Aceh, publik nasional dan juga internasional.

Berbagai dukungan terhadap perjuangan referendum pun mengalir, dan mendapat simpati masyarakat. Lembaga-lembaga kemahasiswaan, dewan, dan elemen lainnya satu persatu menyatakan dukungan terhadap perjuangan referendum. Ketika jutaan massa berkumpul di Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh pada 8 November 1999 untuk mengikuti Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU MPR) Aceh.

Aceh Dihantam Tsunami Akhir Desember 2004

Halaman Masjid Raya Baiurrahman pasca diterjang Tsunami | istimewa

Dalam situasi Aceh berkecamuk perang hebat, pada 26 Desember 2004 tejadinya Gempa bumi Samudra Hindia dengan guncangan gempa berskala 9,1–9,3 dan memicu serangkaian tsunami.

Kala itu Dunia berduka, khususnya Indonesia, Aceh menjadi sorotan di mata dunia 200 ribu jiwa warga Aceh meninggal dan hilang. Dengan semangat rasa kemanusiaan yang tinggi tak mengenal agama dan golongan semua pihak tertuju memberi bantuan ke Aceh. Beberapa tahun kemudian Aceh kembali bangkit dengan segala bangunan yang hancur dibangun kembali atas perhatian semua pihak khususnya dunia Internasional.

Perdamaian Aceh MoU Helsiki, Antara Pemerintah RI-GAM

Martti Ahtisaari memediasi perundingan damai RI-GAM | istimewa

Setelah 8 bulan terjadi musibah Tsunami Aceh, Pemerintah Indonesia dan GAM sepakat mengakhiri konflik internal selama 30 tahun lamanya melalui proses panjang menuju damai Aceh. Perjanjian damai yang di fisiltasi pihak internasional yang dimediasi mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari.

Kesepakatan Helsinki atau nota kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandatangani di Helsinki pada 15 Agustus 2005. Kesepakatan ini merupakan pernyataan komitmen kedua belah pihak untuk penyelesaian konflik Aceh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua.

Dengan adanya nota kesepahaman tersebut kini rakyat Aceh kembali bangkit dari semua keterpurukan selama 30 tahun lamanya.

Rasa Solidaritas Orang Aceh Menolong Etnis Rohingya

Warga Aceh membantu menurunkan pengunsi Rohinya dari perahu | istimewa

Pasca damai Aceh, Aceh kembali menjadi perhatian dunia atas rasa solidaritas dan kemanusiaan warga Aceh yang difasilitasi pemerintah menerima tamu sesama muslim etnis rohingya yang terdampar ditengah laut Aceh, konon katanya menurut PBB,Rohingya merupakan kaum paling teraniaya dimuka bumi.

Dari pertengahan 2014 hngga Juni 2020, Aceh sudah beberapa kali menolong pengungsi Ronhingya yang terdampar ditengah laut.
Bahkan tahun 2014 lalu aceh mendapat apressiasi dari pemerintah Turki, ucapan itu langsung diucapkan presiden Erdogan untuk Aceh.

Dengan penerimaan pengungsi Rohingya 2020 ditengah merebaknya pandemi covid-19, warga Aceh berani menerima dan menampung mereka. Lagi-lagi “Si Aceh” (warga Aceh) menjadi perhatian dunia internasinal dan mendapat tanggapan positif dari semua kalangan.

Na, itulah sedikit dari banyaknya peristiwa penting yang pernah terjadi di Aceh yang kami sajikan, baik itu pahit dan manis warga Aceh telah merasakan semua. Semoga bumi Serambi Mekkah ini selalu mendapat lindungan dan limpahan rahmat Allah Taala. (*)

No comments:
Write komentar

Tinggalkan Komentar!