Monday, April 1, 2019

Mengenang Kembali Tragedi Bantaqiyah di Beutong Ateuh dan Pelanggaran HAM Yang Ditenggelamkan

Tragedi pembantaian massal Tgk. Bantaqiyah dan pengikutnya merupakan salah satu peristiwa pelanggaran HAM besar di Aceh semasa konflik. Ini juga tak dengan peristiwa Simpang KKA, Rumoh Geudong dan Peristiwa sadis lainnya di Aceh kala itu.
Semua itu korbanya adalah warga sipil yang tak berdosa atas dasar konflik yang selama ini terjadi di Aceh. Maka Aceh juga lazim disebut daerah Zona Perang Abadi sepanjang masa.

Alkisah

Zubaidah (1,5), merajuk dan menangis minta bersua dengan sang ayah. Baidah merupakan putri ketiga dari Saudah dia acap kali bertanya ke mana ayah pergi. Pada dasarnya bocah seusia Baidah memang tak tau apa-apa dengan hal yang menimpa orangtuanya. Baidah bahkan meronta dalam gendongan sang ibu sambil terus merajuk ingin jumpa ayah.
Di lain hal ada juga Karmila (6,5) dia baru saja didaftarkan pada sebuah SD, ia pun sangat terpukul tanpa mampu membaca dan baru sekira seminggu yang lalu ayah mendaftarkan ia ke sekolah. Pun demikian Karmila pergi dan pulang sekolah selalu diantar dan dijemput ayah. Kini jadi tanda tanya siapa yang akan menemannya. Semenjak tragedi ersebut, Karmila tiada teman, namun juga kehilangan seklah, Sebab sang ibu belum mengizinkan bersekolah sebelum selesai hari ketujuh hari kemalangan.

Tgk. Bantaqiyah (lingkaran merah)
Zubaidah dan Karmila merupakan dari tiga bersaudara pasangan Saudah dengan Samsuar. Mereka berdua bukan hanya kehilanan ayah, namu juga ditingal pergi kakek serta paman yang mereka sayangi. Bersamaan dengan Samsuar (27), Abdul Manaf (45), dan M. Ali (18) mereka merupakan korban pembataian Tragedi Bantaqiyah. Selain itu ada juga korban lain yang juga menningal yaitu M. Harun (18), Zubir (25), Usman bin Bantaqiyah(29), M. Din (45), Tarmizi (32), M. Husen (42), Samin (28), Jamaludin (29), M. Amin (32), Jamalulhadi (27). Dari derertan 32 korban, 17 orang itu merupakan warga Blang Beurandeh. Sisa lainnya merupakan penduduk mukim Beutong Ateuh.

Singkat cerita setelah tragedi tersebut, pihak keluarga  dekat Bantaqiyah dengan dibantu sejulah warga menggali kembali kuburan massal tersebut. Bantaqiyah pun dikubur bersama dengan anak serta dengan 23 korban lainya, mereka ditanam tepat dibelakang rumahnya. Dan ada lagi sisanya 7 mayat tepat dikaki bukit sekira 50 meter dari bangunan utama dayah Bantaqiyah. Pengalian kembali kuburan massal pertama ini membutuhkan waktu dua jam. Dalam penggalian ini warga harus lihai, sebab kondisi mayat tak beraturan posisinya. Kedalamannya pun hanya 50 centimeter. Sebagian besar bentuk mayat sudah mengelupas dan bau tak sedap pun keluar. Karenan itu pula pengangkatan mayat mereka urungkan, sebab sudah sangat mustahil dilakukan. Kedua kuburan massal dibelakang dayah Bantaqiyah Cuma diberi siraman air ritual dan hanya ditutupi dengan kain kafan sebagai tanda tajhiz (memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan).

Awalnya dokter dari puskesmas  Babussalam berencana mau melakukan otopsi atasizinkeluarga koban. Akan tetapi rencana tersebut diurungkan atas permintaan keluarga kobrban juga. “Buat apa lagi di otopsi.Kami sudah la, birarkanlah arwah mereka berisirahat dengan tenang,” begitu perminataan Jamaludin salah satu piha keluarga korban dan juga selaku keuchik gampong Blang Beurandeh. Na’uzuillah,sekitar tujoh kilometer lintas arah ke Takengon, warga juga menemukan 20 mayat mayat yang berserakan di jurang-juang. Akan tetapi karena lain hal warga hanya mampun menguburkan 10 dari 20 mayat. Sedangkan sisa lainnya masih beradad dijurang. Sebab keadaan mayat sudah sangat membusuk, warga tak mampu melakuka ritual penguburan. Kesepuluh mayat tersebut masih berserakan di jurang jalan lintas Tekangon-Beutong Ateuh.

Di lain cerita ada empat warga Blang Beurandeh dan satu warga Blang Puuk sampai sekarang belum diketemukan. Diantaranya adalah Tgk. M. Din (41), M. Janata (28), M. Ali B (35), Abdul Waha (26) dan Saidi (38).


Dalam kasus pebantaian Tgk. Bantaqiyah dan lainnya ada tuduhan dari phak TNI bahwasanya semua korban terlibat ganja dan GAM, akan tetapi tuduhan itu tidak pernah terbukti kebenerannya. Seperti tuduhan aparat keamanan terhadap suainya ada menanam ganja sama sekali tiada alasan yang benar. Konon menurut pengakuan iseri kedua Aman Farisah (32), dia punya suami baru saja kembali menuju ke Beutong pada tanggal 28 Mei 1999. Sebab beliau ayah dari 10 orang anak ini ingin berhenti dari seumeubeut (mengajar ngaji). Akan tetapi atas dasar permintaan waga dan Tgk. Bantaqiyah beliau sedia lagi mengajar dankembali ke warga setempat. Ketika itu setia hari Jumat, warga belajar Al Quran dan kitab pada sebuah balai  utama sampai pecahnya tragedi berdarah tersebut.

Adapun pengakuan Aman Farizah,sekira pukul 11,00 WIB, ada ratusan personil TNI datang dengan tia-tiba seraya berteriak meminta peserta pengajian berkumpul. Di waktu perinta tersebut, aparat melempari rumah warga dengan batu serta kayu hingga membuat mereka berlarian keluar balai. Anggota pengajian majlis taklim turun dari balai. Seraya berteriak aparat menanyakan keberadaan Tgk. Bantaqiyah untuk keluar rumah. Seteah keluar dari rumah, antara aparat dengan Bantaqiyah sempat terjadi dialog, tapi tak ada yang tau apa yang mereka bicarakan. Di lain cerita pasukan lain tanpa gentar dan perintah terus melepaskan tembakan bebas ke segala arah. Bantaqiyah selaku pimpinan sempat memerintah kepada warga dan santri untuk tiarap. Suara tembakan peluru menjadi riyuh dari keheningan desa. Innalillah, korban pun berjatuhan, darah segar keluar dari tubuh korban. Satu per atau warga menjadi makanan peluru si Aparat palis tersebut. Mereka semua syahid dengan bersimbah darah tepatnya di dalam pekarangan dayah atau pesantren Bantaqiyah Beutong Ateuh, semoga segala amal mereka diterima disisi Allah, aamiin.

Warga mengambil jasad dari mayat yang tidak utuh lagi tersebut pada hari Senin dan Selasa atau sehari setelah pembantaian ini terbongkar. Dari data korban seluruhnya, mereka merupakan rakyat sipil yang tak berdosa. Tgk. Bantaqiyah adalah incaran mereka juga mejadi korban bersama jamaah pengajian majlis taklim tersebut. Tgk. Bantaqiyah syahid setelah rentetan peluru yang ketiga ke tubuhnya. Konon, sebelumnya Bantaqiyah sempat dihajar dengan jenis peluru PSD 83, tapi sama sekali tidak mempan dan akhirnya beliau diterjang dengan senjat anti personil.

Dengan demikian, daftar kuburan massal di Aceh selama konflik yang berkepanjangan bertambah, setelah tragedi masa DOM, Simpang KKA, dan Tragedi Lembah Beutong Ateuh yang berada 340 barat arah Banda Aceh menjadi kisah yang dapat dilupakan.


=================


Menurut data sensus pemukiman Beutong Ateuh dihuni lebih kurang 800 KK (kepala keluarga), wilayahnya tepat berada di antara himpitan pegunungan Bukit Barisan. Wilayah tersebut sangat subur, tapi sayang daerah itu sangat terasing dan ketinggalan. Umumnya pekerjaan warga Beutong Ateuh sebagai petani, dan mencari kayu bakar di hutan. Sadisnya, pemukiman tersebut telah dicemari dengan darah. Peristiwa tragis pada hari Jumat  (23/7/1999) silam telah eremukkan jiwa rakyat di sana. Puluhan istri dan anak kehilngan suami dan ayah, sekitar lebih kurang 25 orang telah menjadi Yatim dan puluhan ayah juga kehilangan anaknya. Konon, tragedi berdarah ini baru terungkap dua hari setelah kajadian teatnya pada hari Minggu (26/7/1999) setelah ada laporan dari seorang warga Beutong yang berhasil lolos ke kota kecamatan.

Letkol E. Sudjono, Pimpinan yang perintah pembantaian Beutong Ateuh
Dari sekian populer cerita pada masa itu, Beutong memang sering jadi berita trending. Terkait dengan kasus Tgk Bantaqiyah dengan penampakan jubah putihnya pada akhir tahun 1987, juga terserap berita adanya kehebohan kebun ganja di sana. Jadi, setelah Bantaqiyah dibebaskan, ada saja berita menarik untuk di dengar kala itu apa lagi kisah Beutong Ateuh yang menggores. Lantas, apa disebabkan oleh tgk. Bantaqiyah yang lagi viral kala itu? Pastinya lembah Beutong telh dinodai dengan pembataian sadis dengan mengalirnya darah-darah mereka yang tak berdosa, darah dari pada putera-putera pemilik sah bumi Daerah Darah Pahlawan ini. Beginiah air susu dibalas dengan air tuba.


Dari pengakuan warga setempat, Teungku Banta, begtiu panggilan akrab Tgk. Bantaqiyah beliah bukan lah mafia ganja yang dituduhkan ABRI kala itu. Warga menyebutkan Banta merupakan seorang guree (guru ngaji) di desa Blang Beurandeh. Tepat di atas tanah dengan luas 3.000 meter, Tgk. Banta juga mendirikan sebuah masjid sederhana, sampingnya juga ada sebuah balai besar tempat pengajian. Tgk. Banta orang sangat terbuka, bahkan ia dapat menerima tamu siapapun yang datang ingin menuntut ilmu. Hampir tiap hari pula beliau menerima tamu dari seluruh desa  dan hampir dari seluruh Aceh. Dengan tujuan sekedar meminta tausiah dan menuntut ilmu dalam beberapa hari dan setelah itu mereka pulang.

Uniknya, Bantaqiyah membuat psersyaratan khusus bagi siapa yang ingin mennutut ilmu padanya, yaitu dengan syarat harus puasa 7, 14, 40 dan sampai 44 hari. Mereka datang dari status sosial yang berbeda, bahkan dari pangkuan keluarga dekat Tgk. Banta pernah seorang perwira Kopassus datang menimba ilmu dari Tgk. Banta, namun hanya sejenak sebab keburu dipulangkan dari masrkasnya.
Mengenai kasus jubah putih yang sempat viral kala itu di Aceh sekira tahun 1987 silam. Konon, Bantaqiyah hampir kena tangkap sebab ada tuduhan penyebaran ajaran sesat. Akan tetapi kegiatan pengajian terus berlangsung. Cuma Jubah Putih tak lagi datang merasuki kota. Sekira tahun 1993, Tgk. Banta ditangkap dengan dalih tuduhan punya kebun ganja serta memerintah muridnya untuk menanam ganja. Sadisnya, Tgk. Banta dilibatkan dengan tuduhan memasok ganja hanya untuk memberi bantuan perjuangan GPK Aceh. Naas, Bantaqiyah di masukkan ke penjara hingga ada vonis 20 tahun penjara dengan UU Anti Subversi.

Perlu diketahui okasi dayah Bantaqiyah itu dihimpit oleh perbukitan serta aliran sungai yang sangat jernih. Beliau hidup dengan dua isteri dan satu menantunya. Konon, isteri pertamanya bernama Nursiah, menikah sekira 30 tahun sebelum beliau wafat, dengan isteri pertama ini beliau di karuniai 8 orang anak. Sedangkan isteri kedua bernama Aman Farisah, asal dari kota Bireuen. Dengan isteri kedua Bantaqiyah di karuania dua putra yang masih kecil.

Layaknya seperti settingan film ‘The Killing Field’ perkampungan Beuong Ateuh berada di atas lembah yang bener-bener tenar. Selain itu daerah ini juga sangat sulit dijangkau warga asing. Sebab transportasi reguler sangat sulit untuk mencapai  Beutong Ateuh  dan mesti ditempuh perjanlanan sangat panjang selama -7 jam arah dari Meulaboh. Kedati pun itu mesti menggunakan kendaraan jenis jeep seprti Toyota Land Cruiser. Beberpa tahun silam pemerintah bau saja merintis pembangunan jalan menuju Beutong ateuh. Itupun medan lumpur dan tanjakan tajam dan ancaman jurang serta bebatuan cadas sering kali membahayakan perjalanan. Warga Beutng Ateuh jikalau ingon turun gunung mesti menunggu jadwal angkutan khusus dau hari sekali dan harus menguras rupiah 25 ribu per orang dalam jarak perjalanan 90 kilometer.

Puncak gunug Singgahmat dengan Ketinggian 4.000 kaki dari permukaan laut sangat berat medannya. Gunung singghamata sering di lapisi kabut dingin, bahkan longsr sebab adanya permabahan hutan di waktu sebelumnya.

Abdullah Saleh, SH bersama anggota DPRA lainnya berziarah di Makam Tgk. Bantaqiyah, (30/5/2018) (Juli Saidi/MODUSACEH.CO)
Beutong Ateuh merupakan daerah kaya akan sumber daya alam. Warga disini kerjanya berkebun. Sebagian besar warga Beutong Ateuh umumnya buta aksara. Dari sekitar 800 KK disini, Cuma ada satu SD saja yang ada. Pun demikian proses belajar hanya seadanya. Kendati demikian minat mereka untuk belajar pun tak surut, dan warga setempat tetap menyekolahkan anak-anaknya atau mennuntut ilmu agama. Selama ini pun hanya ada pesantren atau dayah Bantaqiyah. Perlu diketahui dayah ini hanya dibangun dengan dana sekitar 105 rupiah dari anggaran 400 juta rupiah sejak tahun 1987 silam. Sekira dua tahun kemudian Tgk. Banta turun ke kota untuk menuntut status Aceh segera di Istimewakan. Kabar pasukan putih, ya begitulah adanya rombongannya tgk. Banta mengarak bendera Merah berlambang bulan bintang dalam kota Meulaboh, Aceh Barat.

 Dayah Bantaqiyah berada di desa Blang beurandeh. Desa inipun terletak di sseberang hulu sungai. Jumlah penduduk desa ini sangat sedikit dibanding dengan jumlah penduduk desa tetangga. Akan tetapi, desa Blang Berundeh telah melahirkan seorang politisi dan juga pengacara hebat yakni Abdullah Saleh, SH yang sekarang sedang berjuang menuju ke Senayan sebagai calon DPR RI periode 2019-2024 lewat partai Gerindra.

Perumahan penduduk di desa Blang Beurandeh sederhan saja, pada dasarnya bangunan hanya dari kayu. Luas rumah Cuma dapat menampung dua –tiga kamar ukuran 3x3 meter. Daerah ini ada sumber air terjun untuk pembangkitan PLTA. Katanya daerah ini juga strategis untuk latihan militer. Kerena kecukupan air sangat memadai, daerah ini ganja dapat tumbuh dengan sendirinya di hutan, maka oleh sebab itu aparat palis tersebut menuduh warga yang tanam ganja, layaknya seperti tuduhan yang dilontarkan terhadap almarhum Tgk. Bantaqiyah, begitu penuturan tokoh masyarakat setempat T. Cut Ali.


Nah, demikian lah turlisan singkat dengan sejarah tragis menimpa Tgk. Bantaqiyah dan pengikutnya beberapa tahun yang silam. Semoga semua orang yang terlibat segera di proses hukum dan menadapat balasan azab dari Allah azza wa Jalla. Dan semoga semua korban mendapat tempat yang layak disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, aamiiin ya Rabbal’alamin.


Referensi : Kutipan dari tulisan Mukhtaruddin Yakub (Wartawan Buletin Nanggroe, WALHI Aceh) dan referensi lain yang tepercaya.

3 comments:
Write komentar
  1. Deposit Judi Kartu Pakai Pulsa Dengan Potongan Terkecil
    Didukung Server Poker Terbaik Indonesia

    Nikmati Promo Bonus Terbesar Dari Pokervita Situs Judi Deposit Pulsa Terpercaya
    * Promo Bonus Turnover Harian/Mingguan/Bulanan
    * Promo Bonus Refferal 15% Seumur Hidup

    Judi Pakai Pulsa Terpercaya

    Kami juga menyediakan beberapa game populer saat ini, Judi Bola, Casino Online, Sabung Ayam, Tembak Ikan Joker.

    Info Lebih Lanjut Hubungi :
    Livechat : www,pokervita,fun
    WA: 08122222996
    Wechat: pokervitaofficial
    Line: vitapoker

    ReplyDelete
  2. Deposit Judi Kartu Pakai Pulsa Dengan Potongan Terkecil
    Didukung Server Poker Terbaik Indonesia

    Nikmati Promo Bonus Terbesar Dari Pokervita Situs Judi Deposit Pulsa Terpercaya
    * Promo Bonus Turnover Harian/Mingguan/Bulanan
    * Promo Bonus Refferal 15% Seumur Hidup

    Judi Pakai Pulsa Terpercaya

    Kami juga menyediakan beberapa game populer saat ini, Judi Bola, Casino Online, Sabung Ayam, Tembak Ikan Joker.

    Info Lebih Lanjut Hubungi :
    Livechat : www,pokervita,fun
    WA: 08122222996
    Wechat: pokervitaofficial
    Line: vitapoker

    ReplyDelete
  3. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    ReplyDelete

Tinggalkan Komentar!